top of page

Menyambut Kembali Si Hidung Panjang dari Pegunungan Papua

  • Writer: Leonardo Numberi
    Leonardo Numberi
  • May 19, 2025
  • 3 min read

Siapa sangka, dari rimbunnya hutan tropis Papua yang masih menyimpan banyak misteri, seekor makhluk kecil berbulu gelap dan berhidung panjang berhasil menunjukkan dirinya kembali kepada dunia. Namanya Zaglossus attenboroughi, atau lebih akrab disebut ekidna moncong panjang Attenborough. Selama lebih dari 60 tahun, hewan ini dianggap “hilang” karena tak pernah lagi terlihat sejak pertama kali ditemukan lewat subfosil di daerah Cyclops pada 1961. Tapi kini, berkat kerja keras para peneliti dan masyarakat adat di Kampung Yongsu, Jayapura, Papua, spesies unik ini berhasil didokumentasikan kembali lewat kamera jebak. Sebuah kabar gembira untuk keanekaragaman hayati Indonesia—khususnya Papua—dan dunia.

Temukan kisah penemuan kembali echidna moncong panjang (Zaglossus attenboroughi) di Papua setelah 60 tahun menghilang. Pelajari peran penting masyarakat adat dan upaya konservasi dalam menjaga spesies langka ini serta keanekaragaman hayati hutan Papua.
Zaglossus attenboroughi tertangkap kamera (Sumber: Morib dkk. 2025)

Ekidna ini bukan hewan biasa. Ia tergolong monotremata, yaitu mamalia bertelur, bersama dengan platipus dan spesies ekidna lain di Australia. Tapi yang membuat Zaglossus attenboroughi istimewa adalah kelangkaannya dan habitatnya yang sangat terbatas. Kamera jebak yang dipasang selama ekspedisi lapangan pada 2023 berhasil merekam beberapa individu, menandakan bahwa populasi ini masih bertahan di alam liar. Menariknya, masyarakat adat setempat selama ini sudah mengenal hewan ini lewat cerita dan pengalaman turun-temurun. Mereka menyebutnya payangko atau payangko-konim, dan mereka tahu kebiasaan serta jejaknya jauh sebelum para ilmuwan datang.


Apa yang membuat penemuan ini begitu penting? Pertama, ini menjadi pengingat bahwa masih banyak spesies langka yang hidup di ekosistem terpencil dan belum sepenuhnya diketahui sains. Kedua, keberadaan mereka sangat rentan terhadap perambahan hutan, pembangunan infrastruktur, dan perburuan. Kehidupan liar Papua makin terancam, dan penemuan ini menjadi alarm bahwa kita harus bertindak cepat. Ketiga, keberhasilan mendokumentasikan ekidna ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan masyarakat adat yang menjadi penjaga hutan mereka sendiri. Pengetahuan mereka sangat berharga, dan tanpa itu, para peneliti tidak akan tahu harus memulai dari mana.


Konservasi di Papua tidak bisa dilakukan hanya dengan pendekatan dari atas. Kita perlu mendengarkan masyarakat adat, mengakui hak mereka atas tanah, dan menjadikan mereka sebagai mitra utama pelestarian alam. Mereka bukan hanya penjaga tradisional hutan, tapi juga ilmuwan lokal dengan observasi yang cermat terhadap lingkungan sekitarnya. Ketika mereka bilang masih ada payangko di pegunungan, mereka tahu apa yang mereka katakan. Maka penting bagi para ilmuwan, pemerintah, dan dunia internasional untuk melibatkan mereka dalam setiap langkah konservasi.


Kini, langkah selanjutnya bukan hanya mendokumentasikan keberadaan spesies ini, tapi juga memastikan kelangsungan hidupnya. Hutan Cyclops dan sekitarnya perlu dilindungi lebih serius. Mungkin dengan membentuk kawasan konservasi berbasis masyarakat yang memberikan hak kelola kepada komunitas lokal. Edukasi juga penting, baik bagi masyarakat luar agar tahu pentingnya spesies ini, maupun untuk generasi muda Papua agar bangga dan mau melestarikan warisan alam mereka. Penelitian lebih lanjut juga sangat dibutuhkan untuk memahami perilaku, jumlah populasi, dan kebutuhan ekologi ekidna ini. Semua ini bisa berjalan jika ada kolaborasi antara peneliti, masyarakat, pemerintah, dan dunia internasional.


Kesimpulan

Zaglossus attenboroughi adalah simbol harapan bagi konservasi keanekaragaman hayati di Papua. Ia membuktikan bahwa alam Papua masih menyimpan banyak misteri, dan bahwa masyarakat adat memegang kunci penting untuk menjaganya. Pelestarian satwa langka seperti ini tidak cukup hanya lewat teknologi dan sains, tetapi juga lewat penghargaan terhadap budaya lokal dan kearifan tradisional. Mari kita jaga hutan Papua, bukan hanya untuk ekidna, tapi juga untuk masa depan kita bersama.


Referensi

Morib, G., Tilker, A., Davranoglou, L.R., Anasari, S.D., Balázs, A., Barnes, P.A., Foote, M.J., Hamidy, A., Heatubun, C.D., Helgen, K.M. and Inayah, N., 2025. Attenborough’s echidna rediscovered by combining Indigenous knowledge with camera-trapping. npj Biodiversity, 4(1), pp.1-5.

Comments


TENTANG KAMI

Kami berkomitmen untuk melestarikan keanekaragaman hayati Papua dan melindungi hak-hak masyarakat adat yang hidup di wilayah tersebut. Kami berusaha menjaga keberlangsungan alam dan budaya lokal untuk generasi mendatang melalui edukasi dan kolaborasi.

Daftar untuk notifikasi postingan

logo bersih.png
bottom of page