top of page

Kuskus Bertotol (Spilocuscus maculatus)

  • Writer: Leonardo Numberi
    Leonardo Numberi
  • Sep 21, 2024
  • 4 min read

Updated: Jan 15, 2025

Papua, dengan keanekaragaman hayatinya yang kaya, merupakan rumah bagi banyak spesies unik, salah satunya adalah kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus). Kuskus bertotol merupakan marsupial arboreal, atau mamalia berkantung yang hidup di pepohonan, yang dapat ditemukan di wilayah Papua dan beberapa daerah sekitarnya. Hewan ini memiliki penampilan menarik dengan bulu berbintik yang membedakannya dari spesies lainnya. Namun, seperti banyak spesies endemik Papua, kuskus bertotol menghadapi berbagai tantangan konservasi, mulai dari perburuan hingga degradasi habitat.

Seekor Spilocuscus maculatus dengan bulu berwarna krem dan mata merah terang sedang memanjat dahan pohon. Hewan ini menarik karena warna bulunya yang tidak biasa dan mata yang mencolok, membuatnya menjadi subjek yang menarik untuk dipelajari dalam konteks keanekaragaman hayati.
Spilocuscus maculatus | Sumber: jungledragon.com

Kuskus bertotol telah menjadi subjek penelitian untuk memahami lebih dalam tentang habitat dan populasi mereka. Di Pulau Numfor, misalnya, penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 17 individu kuskus bertotol dengan kepadatan populasi sekitar 0,41 individu per hektar. Kepadatan ini mengindikasikan bahwa habitat di wilayah tersebut memiliki kapasitas dukung yang terbatas, di mana produktivitas makanan hanya mencapai 0,75 kg per musim per hektar. Situasi ini menegaskan bahwa habitat kuskus di sana kurang mendukung jumlah populasi yang lebih besar.


Di Pulau Ahe, hasil penelitian lebih mendetail menunjukkan bahwa terdapat 24 individu kuskus bertotol, yang terdiri dari 14 betina dan 10 jantan. Studi ini juga mengungkapkan bahwa kuskus di Pulau Ahe mengonsumsi berbagai jenis makanan, terutama buah dan daun muda dari setidaknya 10 spesies tanaman. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya keanekaragaman flora lokal untuk mendukung kebutuhan hidup spesies ini. Di kawasan lain, seperti Taman Wisata Gunung Meja di Manokwari, ditemukan dua spesies kuskus, termasuk kuskus bertotol, yang memanfaatkan 26 spesies tanaman untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Data ini menunjukkan betapa pentingnya melestarikan hutan-hutan yang kaya akan berbagai spesies tanaman agar dapat menopang kehidupan kuskus bertotol.


Perilaku kuskus bertotol juga cukup menarik untuk dipelajari. Spesies ini merupakan hewan nokturnal, yang berarti mereka aktif pada malam hari. Di siang hari, kuskus bertotol biasanya beristirahat di antara dedaunan yang tebal atau semak-semak, dan mereka tidak terlalu bergantung pada lubang-lubang pohon sebagai tempat berlindung. Selain itu, pola aktivitas kuskus sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Cuaca, fase bulan, dan tingkat keamanan lingkungan sekitar memainkan peran penting dalam menentukan kapan kuskus akan aktif bergerak mencari makanan atau berlindung. Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa kuskus akan lebih aktif ketika cuaca lebih hangat dan langit tidak terlalu terang, yang menunjukkan keterkaitan yang erat antara perilaku kuskus dan faktor-faktor alam.


Sayangnya, meskipun kuskus bertotol memiliki adaptasi yang luar biasa terhadap lingkungannya, spesies ini tidak luput dari ancaman serius. Salah satu ancaman utama bagi kelangsungan hidup kuskus bertotol adalah perburuan. Di beberapa daerah, masyarakat lokal sering kali memburu kuskus untuk daging atau kerajinan tangan, yang pada akhirnya mengancam populasi mereka. Meskipun masyarakat adat Papua dikenal memiliki kearifan lokal yang mendalam terkait dengan pengelolaan sumber daya alam, tidak semua komunitas memiliki tradisi konservasi yang kuat terhadap kuskus bertotol. Bahkan, perburuan kuskus ini juga terjadi di kawasan-kawasan yang seharusnya dilindungi, seperti di Cagar Alam Pegunungan Arfak. Di kawasan ini, perburuan ilegal yang dilakukan oleh penduduk sekitar secara langsung memengaruhi kualitas ekosistem serta jumlah populasi kuskus bertotol.


Ancaman tidak hanya datang dari perburuan di daerah lokal, tetapi juga dari para pendatang. Di Cagar Alam Biak Utara, misalnya, ancaman besar bagi kuskus bertotol berasal dari perburuan yang dilakukan oleh penduduk dari luar kawasan konservasi, khususnya mereka yang berasal dari kota Biak. Ketika perburuan liar ini terus terjadi tanpa pengawasan yang memadai, tidak hanya populasi kuskus yang akan menurun, tetapi juga ekosistem yang lebih luas akan terpengaruh.


Meskipun kondisi konservasi kuskus bertotol tampak mengkhawatirkan, masih ada harapan untuk menyelamatkan spesies ini. Upaya pelestarian yang lebih baik, termasuk pengawasan yang ketat di kawasan konservasi, serta pendidikan kepada masyarakat lokal tentang pentingnya melindungi spesies ini, dapat membantu mengurangi ancaman yang mereka hadapi. Selain itu, kebijakan pemerintah yang tegas mengenai perlindungan habitat dan spesies endemik Papua sangat diperlukan. Salah satu solusi yang dapat diambil adalah memperkuat kerja sama antara pemerintah, lembaga konservasi, serta masyarakat adat untuk menjaga habitat dan populasi kuskus bertotol. Masyarakat adat, dengan pengetahuan mereka yang mendalam tentang lingkungan, harus diajak untuk terlibat lebih aktif dalam upaya konservasi ini. Partisipasi mereka akan sangat membantu, mengingat mereka memiliki hubungan yang sangat erat dengan tanah dan alam sekitar.


Kesimpulan

Kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus) adalah salah satu kekayaan alam Papua yang patut dilestarikan. Dengan populasi yang tersebar di beberapa pulau dan kawasan konservasi, serta ancaman serius dari perburuan dan degradasi habitat, spesies ini memerlukan perhatian khusus dari kita semua. Keanekaragaman hayati Papua adalah warisan yang berharga, dan pelestarian kuskus bertotol adalah salah satu langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah tersebut. Kita dapat memastikan bahwa kuskus bertotol dan spesies-spesies lain yang unik dari Papua dapat terus bertahan hidup di habitat alaminya untuk generasi mendatang melalui kerja sama yang kuat antara pemerintah, masyarakat adat, dan lembaga konservasi.


Sumber

Dahruddin, H., Farida, W.R. and Rohman, A.S., 2005. Plants species as feed sources and nesting site of cuscus (Family Phalangeridae) in Northern Biak Nature Reserve, Papua. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 6(4).


Fatem, S. and Sawen, D., 2007. The species of cuscus in Northern coastal areas of Manokwari, Papua. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 8(3).


Heinsohn, T.E., 2002. Observations of probable camouflaging behaviour in a semi-commensal common spotted cuscus Spilocuscus maculatus maculatus (Marsupialia: Phalangeridae) in New Ireland, Papua New Guinea. Australian Mammalogy, 24(2), pp.243-246.


Pattiselanno, F. and Iyai, D.A., 2009. Jenis Kuskus (Phalangeridae) di Pulau Ratewi Nabire Papua. Jurnal Natural, 8(1), pp.1-3.


Sinery, A.S., 2006. Species of cuscus in Taman Wisata Gunung Meja Manokwari Regency, West Irian Jaya. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 7(2).


Sinery, A.S., Boer, C. and Farida, W.R., 2013. Population dynamics of cuscus in tourist island of Ahe, District of Nabire, Papua. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 14(2).


Sinery, A.S., Farida, W.R. and Wai, J.M., 2016. The population of spotted cuscus (Spilocuscus maculatus) and its habitat carrying capacity in Numfor Island, Papua, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 17(1).

Comments


TENTANG KAMI

Kami berkomitmen untuk melestarikan keanekaragaman hayati Papua dan melindungi hak-hak masyarakat adat yang hidup di wilayah tersebut. Kami berusaha menjaga keberlangsungan alam dan budaya lokal untuk generasi mendatang melalui edukasi dan kolaborasi.

Daftar untuk notifikasi postingan

logo bersih.png
bottom of page