Kanguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus pulcherrimus)
- Leonardo Numberi
- Sep 21, 2024
- 4 min read
Papua, dengan kekayaan alamnya yang luar biasa, merupakan rumah bagi berbagai spesies unik, termasuk salah satu mamalia yang sangat spesial, yaitu kanguru pohon mantel emas atau Dendrolagus pulcherrimus. Spesies ini menjadi sorotan para ilmuwan dan pecinta satwa liar karena keunikannya dan kondisi habitatnya yang semakin terancam. Di tengah hutan hujan tropis yang lebat dan pegunungan Papua, Dendrolagus pulcherrimus hidup di lingkungan yang menantang namun sangat penting untuk kelangsungan spesies ini. Namun, di balik pesona alam Papua, ancaman terhadap satwa ini semakin nyata, sehingga dibutuhkan langkah-langkah serius untuk melindungi keberadaannya.
Kanguru pohon ini memiliki penampilan yang sangat menarik. Dengan bulu berwarna emas, bahu dan kepala berwarna oranye, serta cincin ekor yang berwarna putih hingga kuning pucat, mereka begitu mencolok di habitatnya. Meski memiliki penampilan yang indah, keberadaan mereka sudah semakin sulit ditemukan. Menurut laporan para pemburu lokal, pohon kanguru ini kemungkinan sudah punah di sebagian besar wilayah aslinya. Fakta ini menjadi alarm bagi kita semua, terutama mereka yang peduli dengan pelestarian satwa liar dan lingkungan Papua.
Kanguru pohon mantel emas pernah ditemukan di kawasan Kwerba dan Pegunungan Foya melalui survei Rapid Assessment Program (RAP) pada tahun 2005. Survei ini menunjukkan bahwa Papua tidak hanya kaya akan spesies mamalia, tetapi juga memiliki sejumlah spesies yang unik, termasuk pohon kanguru ini. Tidak hanya itu, survei juga mencatat keberadaan landak Irian (Zaglossus sp.), yang juga merupakan spesies khas Papua. Namun, dari semua penemuan itu, Dendrolagus pulcherrimus menjadi spesies yang paling menarik perhatian karena keberadaannya yang semakin langka.
Keberadaan Dendrolagus pulcherrimus dan spesies lain di Papua sangat terkait erat dengan kesejahteraan masyarakat adat setempat. Bagi masyarakat adat di Papua, tanah, hutan, dan sumber daya alam adalah bagian integral dari identitas budaya mereka. Mereka memegang hak ulayat, yaitu hak komunal untuk menguasai, memanfaatkan, dan melestarikan wilayah adat serta sumber daya alam yang ada di dalamnya. Bagi masyarakat adat, upaya pelestarian satwa seperti Dendrolagus pulcherrimus bukan hanya tentang menjaga satwa liar, melainkan juga tentang melindungi warisan budaya mereka dan sistem nilai yang telah diwariskan turun temurun.
Namun, kenyataannya, ancaman terhadap spesies ini terus meningkat, terutama akibat perburuan liar dan hilangnya habitat akibat pembukaan lahan. Sebagai makhluk arboreal yang sangat bergantung pada hutan hujan Papua, hilangnya habitat alami ini akan berdampak langsung pada kelangsungan hidup mereka. Perubahan lingkungan ini mengancam tidak hanya spesies tersebut, tetapi juga komunitas masyarakat adat yang selama ini hidup berdampingan dengan mereka.
Ada tiga langkah utama yang telah diusulkan untuk memastikan Dendrolagus pulcherrimus dan spesies pohon kanguru lainnya dapat bertahan hidup hingga abad berikutnya. Pertama, diperlukan pembentukan kawasan konservasi yang dilindungi secara resmi. Kawasan ini harus mencakup lebih dari 100.000 hektar, dengan larangan perburuan yang ketat. Area ini perlu meliputi habitat inti dari spesies-spesies tersebut, terutama di kawasan ketinggian dan geografis yang menjadi pusat distribusi mereka. Diharapkan ancaman seperti perburuan dapat diminimalkan dan habitat mereka tetap terjaga dengan adanya kawasan konservasi yang terlindungi.
Langkah kedua adalah melibatkan komunitas lokal dalam upaya konservasi. Masyarakat adat harus menjadi bagian dari solusi pelestarian Dendrolagus pulcherrimus. Keterlibatan mereka bukan hanya sebagai pengelola kawasan, tetapi juga sebagai pelindung satwa liar yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama berabad-abad. Agar pelibatan ini berhasil, penting untuk memberikan insentif yang jelas dan bermanfaat bagi masyarakat lokal, sehingga mereka melihat konservasi ini bukan sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari keberlanjutan hidup mereka. Ini bisa berupa dukungan ekonomi, pendidikan lingkungan, atau program pemberdayaan yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat.
Ketiga, diperlukan program penangkaran internasional untuk Dendrolagus pulcherrimus. Program ini bertujuan untuk menjaga populasi yang sehat dari spesies ini di berbagai fasilitas penangkaran di seluruh dunia. Tujuan utama dari penangkaran ini adalah untuk melestarikan genetik mereka, sehingga pada saat yang tepat, spesies ini bisa dikembalikan ke habitat aslinya di Papua. Selain itu, penangkaran ini berfungsi sebagai cadangan genetik jangka panjang yang sangat penting bagi keberlanjutan spesies yang terancam punah.
Namun, konservasi tidak hanya tentang menjaga spesies dari kepunahan. Ini juga tentang menghormati hak-hak masyarakat adat yang telah menjaga dan melindungi hutan-hutan ini selama berabad-abad. Mereka memiliki hubungan yang kuat dengan tanah dan lingkungan hidup, dan hukum adat mereka telah membantu menjaga ekosistem tersebut tetap seimbang. Oleh karena itu, setiap upaya konservasi harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang mengakui dan melindungi hak-hak mereka. Pengakuan terhadap hak ulayat dan wilayah adat mereka harus menjadi dasar dari setiap kebijakan konservasi yang diterapkan di Papua. Peran pemerintah juga sangat penting dalam mewujudkan konservasi ini. Pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi dengan masyarakat adat dan pihak swasta untuk membangun kebijakan yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati di Papua. Program-program yang melibatkan masyarakat adat perlu diprioritaskan, dan ada baiknya jika ada pendampingan dari lembaga-lembaga adat yang sudah berpengalaman dalam mengelola sumber daya alam di wilayah mereka.
Kesimpulan
Upaya pelestarian Dendrolagus pulcherrimus di Papua membutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pihak, terutama masyarakat adat setempat. Pembentukan kawasan konservasi yang dilindungi, keterlibatan aktif komunitas lokal, dan program penangkaran internasional adalah langkah-langkah penting untuk memastikan keberlangsungan hidup spesies yang terancam punah ini. Di samping itu, setiap inisiatif konservasi harus menghormati hak-hak masyarakat adat dan mengakui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kita dapat melindungi keanekaragaman hayati Papua demi masa depan yang berkelanjutan melalui kerjasama yang kuat antara masyarakat, pemerintah, dan komunitas internasional.
Sumber
Beehler, B.M., Kemp, N. and Shearman, P.L., 2021. Opportunities for tree kangaroo conservation on the island of New Guinea. In Tree Kangaroos (pp. 129-133). Academic Press.
Eldridge, M.D.B., Potter, S., Pratt, R., Johnson, R.N., Flannery, T.F. and Helgen, K.M., 2024. Molecular systematics of the Dendrolagus goodfellowi species group (Marsupialia: Macropodidae). Records of the Australian Museum, 76(2), pp.105-129.
Flannery, T.F., 1993. Taxonomy of Dendrolagus goodfellowi (Macropodidae: Marsupialia) with description of a new subspecies. Records of the Australian Museum, 45, pp.33-42.
Yohanita, A., Helgen, K. and de Fretes, Y., 2007. Survei of mamalia in Mamberamo-Foya Area. Jurnal Natural, 6(1), pp.14-15.





Comments