New Guinea Singing Dog (NGSD)
- Leonardo Numberi
- Sep 28, 2024
- 3 min read
New Guinea Singing Dog (Canis lupus hallstromi) atau anjing bernyanyi Papua telah menjadi topik menarik di kalangan ilmuwan di seluruh dunia. Anjing ini bukan hanya hewan liar biasa, melainkan dianggap sebagai salah satu peninggalan sejarah hidup yang mampu menghubungkan masa lalu dengan masa kini, terutama dalam memahami perjalanan evolusi anjing di dunia. NGSD, yang berasal dari wilayah pegunungan Papua, memiliki banyak karakteristik unik yang membedakannya dari jenis anjing lain di seluruh dunia.
Salah satu hal yang paling mencolok dari NGSD adalah vokalisasi mereka yang luar biasa. Seperti namanya, anjing ini dapat mengeluarkan suara-suara yang menyerupai nyanyian. Suara ini terdengar seperti kombinasi dari lolongan dan serangkaian nada yang melodius, berbeda dengan lolongan khas serigala. Keunikan vokalisasi ini telah menarik perhatian banyak peneliti yang tertarik untuk mempelajari lebih jauh tentang pola komunikasi NGSD dan bagaimana hal ini bisa berkembang dalam isolasi geografis di Papua.
Namun, bukan hanya kemampuan vokal NGSD yang membuat mereka begitu istimewa. Anjing ini juga memiliki garis keturunan yang sangat tua, yang menjadikannya salah satu canis purba yang masih bertahan hingga saat ini. Mereka adalah keturunan anjing purba yang hidup ribuan tahun lalu dan tidak mengalami banyak perubahan genetik, yang menjadikan mereka seperti "fosil hidup" dalam dunia anjing. Peneliti mempercayai bahwa NGSD telah tinggal di dataran tinggi Papua selama ribuan tahun dalam isolasi, jauh dari interaksi dengan anjing domestik modern. Ini memberi mereka kesempatan untuk mempertahankan banyak ciri-ciri genetik dari nenek moyang anjing purba yang mungkin sudah hilang di populasi anjing lainnya.
NGSD memiliki tubuh yang berbeda dibandingkan anjing peliharaan modern. Mereka umumnya berukuran lebih kecil dengan otot-otot yang lebih kencang dan refleks yang lebih cepat, membuat mereka sangat terampil dalam bergerak cepat melalui medan yang sulit. Mata mereka tajam, penuh kewaspadaan, mencerminkan naluri alami yang sangat kuat. NGSD bisa dibilang sangat mandiri, dengan perilaku yang lebih menyerupai serigala daripada anjing domestik.
Meskipun sebagian besar NGSD dianggap liar, ada beberapa suku di Papua telah menjalin hubungan dengan mereka, meskipun tidak seperti hubungan domestikasi yang umum antara manusia dan anjing. Kepercayaan masyarakat setempat terhadap NGSD sangat dalam dan berakar berdasarkan tradisi serta mitologi mereka. Bagi suku-suku di Papua (Suku Moni dan Suku Amungme), NGSD adalah makhluk yang memiliki nilai spiritual dan simbolis. Dalam banyak cerita rakyat, NGSD dipandang sebagai penjaga roh dan pelindung suku, yang dipercaya dapat membawa keberuntungan dan menjauhkan malapetaka. Ritual-ritual tertentu dilakukan untuk menghormati NGSD, mencerminkan pengakuan mereka terhadap pentingnya hewan ini dalam kehidupan sehari-hari dan kepercayaan bahwa NGSD memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan memahami suara serta perasaan manusia. Keterikatan ini menciptakan hubungan yang kuat antara masyarakat lokal dan NGSD, di mana hewan ini dihargai tidak hanya sebagai bagian dari ekosistem tetapi juga sebagai entitas yang mendukung identitas dan spiritualitas komunitas.
Para peneliti di seluruh dunia terus mempelajari NGSD bukan hanya karena mereka tertarik dengan sejarahnya, tetapi juga karena NGSD bisa membantu menjelaskan lebih banyak tentang hubungan antara manusia dan anjing di masa lalu. Papua, dengan kondisi geografisnya yang terpencil, menyediakan laboratorium alami yang memungkinkan para ilmuwan melihat bagaimana anjing dapat berkembang tanpa campur tangan manusia modern selama ribuan tahun. Penelitian terhadap NGSD juga membuka peluang untuk memahami bagaimana anjing-anjing purba mungkin berperan dalam kehidupan masyarakat kuno di Asia dan Oseania.
Banyak penelitian yang menjelaskan bahwa NGSD memiliki keterkaitan erat dengan dingo di Australia, yang juga merupakan canis purba lainnya. Keterkaitan ini dipelajari melalui analisis genetik yang menunjukkan adanya persilangan antara kedua spesies ini pada masa lalu. Namun, meskipun ada beberapa persamaan antara NGSD dan dingo, mereka tetap memiliki banyak perbedaan, terutama dalam hal perilaku dan adaptasi terhadap lingkungan masing-masing.
Kesimpulan
New Guinea Singing Dog bukan hanya sekadar anjing liar yang tinggal di pegunungan Papua. Mereka adalah makhluk yang membawa sejarah panjang evolusi anjing, dari masa lalu hingga saat ini. Keunikan vokal, perilaku, dan adaptasi mereka telah menjadikan NGSD sebagai salah satu spesies yang paling menarik untuk dipelajari. Dalam kehidupan mereka yang terisolasi, NGSD mampu mempertahankan warisan genetik yang memberikan wawasan penting tentang dunia anjing purba. Papua, dengan segala keindahan dan misterinya, telah menjadi rumah bagi salah satu harta karun dunia hewan yang masih menunggu untuk terus dieksplorasi.
Sumber
Bergström, A., Frantz, L., Schmidt, R., Ersmark, E., Lebrasseur, O., Girdland-Flink, L., Lin, A.T., Storå, J., Sjögren, K.G., Anthony, D. and Antipina, E., 2020. Origins and genetic legacy of prehistoric dogs. Science, 370(6516), pp.557-564.
Gojobori, J., Arakawa, N., Xiaokaiti, X., Matsumoto, Y., Matsumura, S., Hongo, H., Ishiguro, N. and Terai, Y., 2024. Japanese wolves are most closely related to dogs and share DNA with East Eurasian dogs. Nature Communications, 15(1), p.1680.
Souilmi, Y., Wasef, S., Williams, M.P., Conroy, G., Bar, I., Bover, P., Dann, J., Heiniger, H., Llamas, B., Ogbourne, S. and Archer, M., 2024. Ancient genomes reveal over two thousand years of dingo population structure. Proceedings of the National Academy of Sciences, 121(30), p.e2407584121.
Numberi, L.A., Surbakti, S.B. and Keiluhu, H.J., 2022. Etnoekologi Highland Wild Dog (Canis hallstromi, Troughton 1957) Berdasarkan Pengetahuan Masyarakat Lokal di Puncak Jaya, Papua. Jurnal Biologi Papua, 14(1), pp.11–24.





Comments