Ekida Papua (Zaglossus)
- Leonardo Numberi
- Sep 29, 2024
- 3 min read
Ekidna Papua mungkin tidak sepopuler kanguru atau koala, tetapi hewan ini adalah salah satu satwa paling unik dan menarik di dunia. Ekidna, khususnya dari genus Zaglossus, merupakan salah satu dari sedikit mamalia yang bertelur. Keunikan ini membuatnya menjadi fokus penting bagi penelitian dan upaya konservasi, terutama karena statusnya yang terancam punah. Salah satu jenis ekidna Papua yang menarik perhatian adalah Zaglossus attenboroughi, yang dinamai sesuai dengan naturalis terkenal, David Attenborough. Setelah puluhan tahun dianggap punah, penelitian terbaru akhirnya menemukan bahwa spesies ini masih hidup, memberi harapan baru bagi kelangsungan hidupnya di alam liar.
Penemuan kembali Zaglossus attenboroughi terjadi pada tahun 2023 dalam Ekspedisi Cycloop di Pegunungan Cyclops, Papua. Penemuan ini menjadi titik balik penting dalam upaya konservasi spesies ini. Sebelumnya, spesimen terakhir yang diketahui ditemukan pada tahun 1961 oleh ahli botani Belanda, Pieter van Royen. Spesimen tersebut sekarang disimpan di museum di Belanda, dan selama 62 tahun terakhir, keberadaan spesies ini hanya berdasarkan catatan itu saja. Namun, para peneliti yang dipimpin oleh Dr. James Kempton dari Universitas Oxford berhasil menemukan tanda-tanda makan yang khas dari ekidna ini di Pegunungan Cyclops. Meskipun tidak ada ekidna yang tertangkap kamera secara langsung, jejak aktivitas mereka cukup untuk memastikan bahwa spesies ini masih bertahan di hutan-hutan terpencil Papua.
Ekidna Zaglossus attenboroughi memiliki ciri fisik yang sangat unik. Tubuhnya ditutupi duri seperti landak, dan ia memiliki moncong panjang lurus. Mereka berjalan dengan empat kaki dan tinggal di hutan-hutan di ketinggian. Masyarakat lokal di Desa Yongsu Spari, yang terletak di kaki Pegunungan Cyclops, mengenal hewan ini dengan nama payangko. Pengetahuan lokal seperti ini sangat penting dalam mendukung penelitian dan konservasi, karena masyarakat sering kali memiliki informasi berharga tentang keberadaan spesies yang mungkin tidak terpantau oleh ilmuwan.
Selain Zaglossus attenboroughi, ada juga jenis ekidna lainnya, seperti Zaglossus bruijnii, yang masih ditemukan di Semenanjung Vogelkop, Papua Barat. Meskipun penampakan langsung dari spesies ini tidak terjadi sejak 1980-an, penelitian pada tahun 2018 berhasil mengonfirmasi keberadaannya di wilayah Kabupaten Tambrauw dan Teluk Bintuni. Penemuan ini penting karena menunjukkan bahwa masih ada populasi ekidna yang bertahan di beberapa wilayah Papua, meskipun tekanan dari perburuan dan hilangnya habitat terus meningkat.
Ancaman utama bagi ekidna Papua berasal dari perburuan subsisten dan hilangnya habitat hutan. Banyak masyarakat lokal yang dulu memburu ekidna sebagai sumber pangan, tetapi kini kesadaran tentang pentingnya melindungi spesies ini mulai tumbuh. Di Kampung Klalik, Papua Barat Daya, misalnya, warga lokal telah meninggalkan kebiasaan berburu ekidna sejak tahun 2023. Mereka kini beralih ke ekowisata, di mana para wisatawan dapat datang dan mengamati ekidna di alam liar. Program ini telah menarik perhatian turis internasional, yang biasanya tinggal antara tiga hingga tujuh hari di rumah-rumah warga lokal untuk menikmati keragaman hayati yang ditawarkan hutan Papua. Selain ekidna, Kampung Klalik juga menjadi rumah bagi banyak spesies burung dan satwa lainnya, yang menambah daya tarik ekowisata di sana.
Kesimpulan
Meskipun ekidna Papua menghadapi ancaman serius, penelitian terbaru menunjukkan bahwa spesies ini masih dapat ditemukan di beberapa wilayah terpencil di Papua. Penemuan Zaglossus attenboroughi yang dianggap punah selama 62 tahun memberikan harapan baru bagi kelangsungan hidupnya. Keberhasilan upaya konservasi sangat bergantung pada kerja sama dengan masyarakat lokal, yang kini mulai melihat potensi ekowisata sebagai alternatif berkelanjutan untuk melindungi ekidna dan habitatnya. Dukungan yang tepat baik dari ilmuwan maupun masyarakat lokal, ekidna Papua dapat terus bertahan dan menjadi bagian dari keragaman hayati yang unik di Indonesia.
Sumber
Pattiselanno, F., Barnes, P.A. and Arobaya, A.Y., 2022. Using local ecological knowledge to locate the western long-beaked echidna Zaglossus bruijnii on the Vogelkop Peninsula, West Papua, Indonesia. Oryx, 56(4), pp.636-638.
Opiang, M.D., 2009. Home ranges, movement, and den use in long-beaked echidnas, Zaglossus bartoni, from Papua New Guinea. Journal of Mammalogy, 90(2), pp.340-346.





Comments