Mengelola Perubahan: Antara Kearifan Lokal dan Modernitas di Papua
- Leonardo Numberi
- Jan 18, 2025
- 3 min read
Mari kita mulai dengan sesuatu yang menarik. Di Papua, ada sebuah komunitas yang hidup dengan cara unik, mengelola pala sebagai salah satu sumber penghidupan utama mereka. Pala bukan hanya soal hasil bumi biasa, tetapi juga simbol kebudayaan yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Namun, apa yang terjadi jika sistem tradisional yang sudah ada sejak lama mulai tergeser oleh perubahan zaman? Inilah yang dikaji dalam sebuah penelitian menarik oleh Ungirwalu dkk (2025), yang menelusuri perubahan dinamika kekuasaan dalam komunitas Baham-Matta di Fakfak, Papua.
Di komunitas ini, dulunya ada seorang pemimpin suku, yang disebut Patuan, yang memegang peran sentral. Patuan adalah figur yang dihormati, bukan hanya karena kebijaksanaannya, tetapi juga karena ia menjadi kunci dalam pengelolaan pala. Ia mengatur kapan dan bagaimana pala dipanen, siapa yang boleh mengambil, dan bagaimana hasilnya dibagi. Semua itu dilakukan dengan sistem adat yang dikenal sebagai Sasi, semacam aturan adat yang menjaga agar sumber daya alam tetap lestari. Sistem ini telah berjalan begitu lama hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Namun, dunia terus berubah, dan perubahan itu sampai juga ke komunitas Baham-Matta. Sistem baru yang masuk dari luar seperti administrasi pemerintah dan akses langsung ke pasar oleh masyarakat membuat peran Patuan mulai memudar. Jika dulu semua orang bergantung pada keputusan Patuan, sekarang mereka bisa langsung menjual pala sendiri tanpa harus melalui aturan adat. Terdengar praktis, bukan? Tapi ternyata, ada konsekuensinya. Perubahan ini membuat hubungan sosial di dalam komunitas menjadi lebih renggang. Rasa kebersamaan yang dulu kuat, perlahan mulai terkikis.
Hal lain yang menarik adalah bagaimana sistem Sasi juga tergantikan oleh aturan-aturan baru yang diperkenalkan pemerintah. Satu sisi, sistem baru ini memberikan peluang lebih besar bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam pengelolaan sumber daya mereka. Tapi di sisi lain, tanpa Sasi, tidak ada lagi mekanisme tradisional yang melindungi pala dari eksploitasi berlebihan. Orang-orang bisa memanen kapan saja, bahkan sebelum buahnya matang. Akibatnya, hasil yang diperoleh tidak sebaik dulu, dan ancaman kerusakan lingkungan pun mulai terasa.
Mungkin Anda bertanya, apakah perubahan ini sepenuhnya buruk? Jawabannya, tidak juga. Perubahan memberikan peluang untuk maju, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa mengabaikan kearifan lokal bisa menjadi bumerang. Dalam sistem lama, Patuan tidak hanya berperan sebagai pemimpin, tetapi juga penjaga tradisi yang memastikan semua berjalan seimbang. Ketika perannya dihilangkan, tidak ada lagi yang berfungsi sebagai penengah atau pelindung nilai-nilai komunitas.
Lalu, apa yang bisa dipelajari dari semua ini? Penelitian ini menyarankan bahwa jika kita ingin membuat kebijakan yang efektif, kita harus melibatkan masyarakat adat dan menghargai cara mereka mengelola alam. Tidak semua hal tradisional harus diubah. Terkadang, solusi terbaik adalah menggabungkan yang lama dengan yang baru, menciptakan sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Misalnya, menghidupkan kembali Sasi dengan beberapa penyesuaian modern, sehingga tradisi tetap hidup dan relevan dalam konteks masa kini.
Kesimpulan
Komunitas Baham-Matta memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Perubahan tidak bisa dihindari, tetapi harus dilakukan dengan hati-hati, menghormati apa yang sudah ada, dan melibatkan mereka yang hidup di tengah perubahan itu. Patuan mungkin tidak lagi menjadi pusat kekuasaan seperti dulu, tetapi nilai-nilai yang diwakilinya masih relevan untuk masa depan. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap perubahan, ada baiknya kita tetap melangkah dengan bijak, agar warisan yang kita tinggalkan tidak hanya berupa kemajuan, tetapi juga kebijaksanaan.
Sumber
Ungirwalu, A., Mansoben, J.R., Runtuboi, Y.Y., Fatem, S.M., Peday, M.H., Marwa, J. and Maryudi, A., 2025. The fall of the kings: Power relations and dynamics in Papua's indigenous community in forest resource management. Forest Policy and Economics, 172, p.103424.





Comments