Jalan Panjang Trans Papua: Berkah atau Bencana?
- Leonardo Numberi
- Apr 23, 2025
- 2 min read
Papua adalah salah satu wilayah yang masih menyimpan hutan tropis paling luas dan paling utuh di Indonesia. Hutan-hutannya menyimpan banyak kehidupan, dari burung cendrawasih yang memesona, sampai pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi dan menyimpan cadangan air tanah. Di balik semua keindahan alam itu, Papua juga punya kehidupan masyarakat adat yang sangat tergantung pada alam sekitarnya. Mereka hidup dari hasil hutan, sungai, dan kebun tradisional yang diwariskan turun-temurun. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan besar-besaran mulai masuk ke Papua. Jalan-jalan dibuka menembus hutan, kebun-kebun skala besar didirikan, dan perusahaan tambang mulai melirik isi perut bumi Papua. Di tengah semua perubahan ini, muncul pertanyaan: siapa yang diuntungkan, dan siapa yang sebenarnya terdampak? Sebuah penelitian dari Sloan dkk (2019) mencoba menjawab persoalan ini.

Penelitian tersebut menemukan bahwa pembangunan infrastruktur seperti jalan raya di Papua, meski niatnya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, justru membuka jalan bagi datangnya masalah baru. Ketika jalan dibuka, bukan hanya kendaraan yang masuk, tapi juga perusahaan besar yang ingin membuka lahan sawit atau tambang. Hal ini membuat hutan yang tadinya aman dari gangguan, menjadi terancam ditebang habis. Di banyak tempat, hutan-hutan yang sebelumnya hanya dilewati oleh penebang kayu skala kecil, kini menjadi lokasi penggundulan hutan untuk kebun besar. Akibatnya, banyak satwa kehilangan tempat tinggal, dan masyarakat lokal kehilangan sumber makanan serta obat-obatan alami.
Yang bikin miris, di beberapa tempat ternyata tanah yang dijanjikan akan dipakai untuk pertanian besar malah dibiarkan begitu saja karena tidak cocok untuk ditanami. Lahan terlalu basah, terlalu asam, atau terlalu jauh dari akses air. Jadi, setelah hutan ditebang, lahan itu malah terbengkalai. Ada pula kebun yang terbakar hebat saat kemarau panjang, karena gambut di bawah tanah mudah terbakar. Jadi, pembangunan yang niatnya baik malah berujung pada kerusakan lingkungan yang tidak perlu.
Hal lain yang disoroti dalam penelitian ini adalah soal tanah adat. Banyak proyek besar mengambil alih tanah masyarakat adat tanpa melibatkan mereka secara layak. Padahal tanah-tanah itu bukan sekadar tempat tinggal atau bercocok tanam, tapi juga punya nilai budaya dan spiritual. Banyak warga merasa terpinggirkan dan tidak mendapat manfaat apa pun dari pembangunan yang dilakukan di atas tanah mereka sendiri. Bahkan ada yang merasa seolah sedang “diusir secara halus” dari kampung halamannya.
Kesimpulan
Penelitian ini memberi gambaran jelas bahwa pembangunan di Papua tidak bisa dilakukan seperti di tempat lain. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, mulai dari kondisi alam yang unik, sampai cara hidup masyarakatnya yang sangat bergantung pada hutan. Kalau pembangunan tidak dilakukan dengan hati-hati dan melibatkan masyarakat lokal, maka yang terjadi bukan kemajuan, tapi justru kehilangan. Papua butuh pembangunan yang ramah alam, yang tidak serakah, dan yang adil untuk semua.
Referensi
Sloan, S., Campbell, M.J., Alamgir, M., Engert, J., Ishida, F.Y., Senn, N., Huther, J. and Laurance, W.F., 2019. Hidden challenges for conservation and development along the Trans-Papuan economic corridor. Environmental science & policy, 92, pp.98-106.




Comments